TEORI PERILAKU KONSUMEN DALAM PERSPEKTIF ILMU EKONOMI ISLAM

 

I.                   PENDAHULUAN

 

I.1. Latar Belakang Masalah

 

Definisi Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari  cara manusia dalam memanfaatkan, mengelola, dan menggunakan sumberdaya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dalam kegiatan ekonomi, pelaku yang bertindak di dalamnya terbagi menjadi  produsen, konsumen dan distributor. Salah satu kegiatan ekonomi yang dibahas dalam ilmu ekonomi adalah tingkah laku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam  pandangan teori  ekonomi konvensional, perilaku/tingkah laku konsumen  didasarkan pada aturan kebebasan mutlak. Berbeda dengan teori ekonomi konvensional, dalam teori ekonomi Islam mengajarkan umat manusia pada umunya dan umat muslim pada khususnya untuk berpegang pada norma dan batas-batas yang berlandaskan kepada ketentuan-ketentuan syariah.

      Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources) yang dimilikinya.

Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui  apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep ‘freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan-kebebasan dasar manusia. Menurut Mill, campur tangan negara di dalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campir tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan.

Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyagkut nilai dasar yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi. Dalam tulisan ini akan dilakukan analisa bagaimana teori ekonomi Islam mendeskripsikan dan membahas perilaku konsumen.

 

I.2. Identifikasi Masalah

 

  1. Apa yang menjadi dasar rujukan konsumen konvensional dan Islam dalam menentukan perilakunya berkonsumsi?
  2. Sejauh mana perbedaan dan persamaan perilaku konsumen konvensional dan Islam dilihat dari aspek motif, tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut?
  3. Bagaimana formulasi empiris yang menggambarkan perilaku konsumen konvensional dan Islam, sehingga bisa terlihat lebih jelas perbedaan dan persamaannya?

 

I.3. Tujuan Penulisan

 

  1. 1.      Mengetahui rujukan dasar perilaku konsumen kovensionaldan Islam dalam menentukan perilaku konsumsinya.
  2. 2.      Mengetahui perbedaan perilaku konsumen konvensional dan Islam dilihat dari aspek motif, tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut.
  3. 3.      Mengetahui model matematis dari perilaku konsumen konvensional dan Islam.

 


II. PEMBAHASAN

 

II.1. Teori Perilaku Konsumen dalam Ilmu Ekonomi Konvensional

 

Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih diantara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumber daya (resources) yang dimilikinya. Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep ’freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan- kebebasan dasar manusia. Menurut Mill (1859), campur tangan negara didalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campur tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan. Lebih jauh Mill (1859) berpendapat bahwa setiap orang didalam masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri, namun kebebasan seseorang untuk bertindak itu dibatasi oleh kebebasan orang lain, artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain.

Dasar filosofis tersebut melatarbelakangi analisis mengenai perilaku konsumen dalam teori ekonomi konvensional:

  • Kelangkaan dan terbatasnya pendapatan.
  • Konsumen mampu membandingkan biaya dengan manfaat.
  • Tidak selamanya konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat. Saat membeli suatu barang, bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga yang harus dibayarkan.
  • Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain. Dengan demikian konsumen dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara.
  • Konsumen tunduk kepada hukum Berkurangnya Tambahan Kepuasan (The Law of Diminishing Marginal Utility). Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi, semakin kecil  tambahan kepuasan yang dihasilkan. Jika untuk setiap tambahan barang diperlukan biaya sebesar harga barang tersebut (P), maka konsumen akan berhenti membeli barang tersebut manakala tambahan manfaat yang diperolehnya (MU) sama besar  dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan. Maka jumlah konsumsi yang optimal  adalah jumlah dimana MU = P.

Fungsi utility dalam ilmu ekonomi konvensional dijelaskan sebagai berikut:

  • Dalam ekonomi, utilitas adalah jumlah dari kesenangan atau kepuasan relatif (gratifikasi) yang dicapai. Dengan jumlah ini, seseorang bisa menentukan meningkat atau menurunnya utilitas, dan kemudian menjelaskan kebiasaan ekonomis dalam koridor dari usaha untuk meningkatkan kepuasan seseorang.
  • Dalam ilmu ekonomi tingkat kepuasan (utility function) digambarkan oleh kurva indiferen (indifference curve). Biasanya yang digambarkan adalah utility function antara dua barang (atau jasa) yang keduanya memang disukai konsumen.

Tujuan aktifitas konsumsi adalah memaksimalkan kepuasan (utility) dari mengkonsumsi sekumpulan barang/jasa yang disebut ’consumption bundle’ dengan memanfaatkan seluruh anggaran/ pendapatan yang dimiliki. Secara matematis hal itu ditunjukan dengan persoalan optimalisasi:

Max U = U1 + U2 + U3 + … + Un

Dengan kendala : I = P1X1 + P2X2 + P3X3 + …….. + PnXn

dimana :

 

U         =    total kepuasan

Un,      =    kepuasan dari mengkonsumsi barang n

Pn        =    harga barang n

Xn,      =    banyaknya barang n yang dikonsumsi

I           =    total pendapatan

Komposisi barang-barang yang dikonsumsi oleh konsumen akan stabil atau berada pada keseimbangan manakala tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap jenis barang per satuan harga adalah sama. Jika ada suatu barang yang memberi tambahan kepuasan lebih tinggi per satuan harganya, maka konsumen akan memperbanyak konsumsi barang tersebut dan otomatis mengurangi konsumsi barang lain. Dengan demikian belum tercapainya komposisi konsumsi yang stabil. Kestabilan atau keseimbangan konsumen tercapai manakala :

 

MUx = MUx = …… = MUi

——-    ——-             ——

Px          Py                  Pi

 

Asumsi sentral dalam teori ekonomi mikro neoklasik adalah manusia berperilaku secara rasional. Sistem kapitalisme tidak dapat hidup tanpanya. Dalam banyak hal, rasionalitas seringkali memaksa adanya penyederhanaan-penyederhanaan masalah, yang kemudian direkayasa menjadi suatu model. Model adalah penyederhanaan masalah-masalah ekonomi dengan tujuan agar kita dapat memahami, melakukan prediksi, merancang kebijakan. Begitu banyak asumsi yang tidak realistis didalam sebuah model, sehingga sebuah tingkat kesalahan tertentu merupakan suatu yang tidak terelakkan. Adanya rasa maklum atas kesalahan yang berada diluar jangkauan rasionalitas menunjukkan bahwa masyarakat ilmiah modern menyakini keterbatasan rasionalitas. Hal itulah yang dikenal dengan ”beyond rationality”. Beyond rationality tidak sama dan tidak identik dengan irrationality.

 

II.2. Teori Perilaku Konsumen dalam Ilmu Ekonomi Islam

 

Pada kenyataannya, kepuasan dan perilaku konsumen dipengaruhi oleh hal-hak sebagai berikut :

  • Nilai guna (utility) barang dan jasa yang dikonsumsi. Kemampuan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
  • Kemampuan konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa. Daya beli dari income konsumen dan ketersediaan barang dipasar.
  • Kecenderungan Konsumen dalam menentukan pilihan konsumsi menyangkut pengalaman masa lalu, budaya, selera, serta nilai-nilai yang dianut seperti agama, adat istiadat.

Pada tingkatan praktis, perilaku ekonomi (economic behavior) sangat ditentukan oleh tingkat keyakinan atau keimanan seseorang atau sekelompok orang yang kemudian membentuk kecenderungan prilaku konsumsi di pasar. Tiga karakteristik perilaku ekonomi dengan menggunakan tingkat keimanan sebagai asumsi yaitu:

  • Ketika keimanan ada pada tingkat yang cukup baik, maka motif berkonsumsi atau berproduksi akan didominasi oleh tiga motif utama tadi: mashlahah, kebutuhan dan kewajiban.
  • Ketika keimanan ada pada tingkat yang kurang baik, maka motifnya tidak didominasi hanya oleh tiga hal tadi tapi juga kemudian akan dipengaruhi secara signifikan oleh ego, rasionalisme (materialisme) dan keinginan-keinganan yang bersifat individualistis.
  • Ketika keimanan ada pada tingkat yang buruk, maka motif berekonomi tentu saja akan didominasi oleh nilai-nilai individualistis (selfishness): ego, keinginan dan rasionalisme.

 

II.2.1. Perilaku konsumen Muslim

 

Perilaku konsumsi Islam berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis perlu didasarkan atas rasionalitas yang disempurnakan yang mengintegrasikan keyakinan kepada kebenaran yang ‘melampaui’ rasionalitas manusia yang sangat terbatas ini. bekerjanya ‘invisible hand’ yang didasari oleh asumsi rasionalitas yang bebas nilai – tidak memadai untuk mencapai tujuan ekonomi Islam yakni terpenuhinya kebutuhan dasar setiap orang dalam suatu masyarakat.

Islam memberikan konsep adanya an-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa yang tenang ini tentu saja tidak berarti jiwa yang mengabaikan tuntutan aspek material dari kehidupan. Disinilah perlu diinjeksikan sikap hidup peduli kepada nasib orang lain yang dalam bahasa Al-Qur’an dikatakan “al-iitsar’.

      Berbeda dengan konsumen konvensional. Seorang muslim dalam penggunaan penghasilanya memiliki 2 sisi, yaitu pertama untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya dan sebagianya lagi untuk dibelanjakan di jalan Allah.

Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Peranan keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Keimanan sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual.

  • Batasan konsumsin dalam islam tidak hanya memperhatikan aspek halal-haram saja tetapi termasuk pula yang diperhatikan adalah yang baik, cocok, bersih, tidak menjijikan. Larangan israf dan larangan bermegah-megahan.
  • Begitu pula batasan konsumsi dalam syari’ah tidak hanya berlaku pada makanan dan minuman saja. Tetapi juga mencakup jenis-jenis komoditi lainya. Pelarangan atau pengharaman konsumsi untuk suatu komoditi bukan tanpa sebab.
  • Pengharaman untuk komoditi karena zatnya karena antara lain memiliki kaitan langsung dalam membahayakan moral dan spiritual.

Dalam Islam, asumsi dan aksioma yang sama (komplementer, substitusi, tdk ada keterikatan), akan tetapi titik tekannya terletak pada halal, haram, serta berkah tidaknya barang yang akan dikonsumsi sehingga jika individu dihadapkan pada dua pilihan A dan B maka seorang muslim (orang yang mempunyai prinsip keislaman) akan memilih barang yang mempunyai tingkat kehalalan dan keberkahan yang lebih tinggi, walaupun barang yang lainnya secara fisik lebih disukai.

Dalam Islam dikenal pula konsumsi sosial, dengan penjelasan sebagai  berikut:

  • Konsumsi dalam islam tidak hanya untuk materi saja tetapi juga termasuk konsumsi social yang terbentuk dalam zakat dan sedekah. Dalam al-Qur’an dan hadits disebutkan bahwa pengeluaran zakat sedekah mendapat kedudukan penting dalam islam. Sebab hal ini dapat memperkuat sendi-sendi social masyarakat.
  • zakat
  • sedekah

 

II.2.2. Fungsi Utilitas dan Maslahah dalam Ekonomi Islam

 

      Imam Shatibi menggunakan istilah maslahah, yang maknanya lebih luas dari sekedar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia dimuka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992).  Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: AGAMA, kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl).

Mencukupi kebutuhan dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islam, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama.  Adapun sifat- sifat maslahah sebagai berikut :

  • Maslahah bersifat subjektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing-masing dalam menentukan apakah suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu.
  • Maslahah orang per orang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal dimana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
  • Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi.

Islam telah membagi kebutuhan manusia berdasarkan tingkatan kepentingannya sebagai berikut:

  • Daruriyyah: merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan didunia dan akhirat, yaitu mencakup terpeliharanya lima elemen dasar kehidupan yakni jiwa, keyakinan atau agama, akal/intelektual, keturunan dan keluarga serta harta benda. Jika tujuan daruriyyah diabaikan, maka tidak akan ada kedamaian, yang timbul adalah kerusakan (fasad) didunia dan kerugian yang nya di akhirat.
  • Hajiyyah:  bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati- hati terhadap lima hal pokok tersebut.
  • Tahsiniyyah:  menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman didalamnya, terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik, keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah.

Kebutuhan tersebut bisa juga diterjemahkan sebagai tiga kebutuhan pokok sebagai berikut :

  • Pertama, kebutuhan primer yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa, akal, agama, keturunan/kehormatan, harta benda). Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan.
  • Kedua, kebutuhan sekunder yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi.
  • Ketiga, kebutuhan pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta berkaitan dengan lima tujuan syariat.

II.2.3. Model Keseimbangan Konsumsi Islam

 

      Keseimbangan konsumsi dalam ekonomi islam didasarkan pada prinsip keadilan distribusi. Dalam ekonomi islam, kepuasan konsumsi seorang Muslim bergantung pada nilai-nilai agama yang diterapkan pada rutinitas kegiatanya, tercermin pada alokasi uang yang dibelanjakanya.

Ayat Al Quran yang memberi petunjuk bagaimana sebaiknya seorang muslim membelanjakan hartanya adalah sebagai berikut:

  • QS.al-Furqaan ayat 67 Allah berfirman : Dan orang- orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih- lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah- tengah antara yang demikian.

Atau dalam QS.al-Israa ayat 29 :

  • ” Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkan karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”
  • “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba_Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

 

II.2.4. Rasionalitas Konsumsi dalam Islam

 

Berikut ini adalah penggunaan rasionalitas dalam perilaku berkonsumsi dalam Islam:

  • Memaksimalkan maslahah (= manfaat + berkah)
    • Pemenuhan kebutuhan akan memberikan tambahan manfaat fisik, spiritual, intelektual, material
    • Pemenuhan keinginan akan menambah kepuasan, manfaat psikis
    • Kebutuhan + keinginan = maslahah + kepuasan
    • Jika kebutuhan bukan yang diinginkan hanya melahirkan manfaat saja, jika keinginan bukan kebutuhan hanya melahirkan kepuasan saja
    • Pemenuhan kebutuhan dan keinginan dibolehkan selama tidak mendatangkan mudharat

Berikut ini garis besar perbedaan kebutuhan dan keingnan.

Tabel 1. Karakteristik Kebutuhan dan Keinginan

Karakteristik

Keinginan

Kebutuhan

Sumber Hasrat (Nafsu Manusia) Fitrah Manusia
Hasil Kepuasan Manfaat & Berkah
Ukuran Preferensi/selera Fungsi
Sifa Subyektif Obyektif
Tuntunan Islam Dibatasi/dikendalikan Dipenuhi

 

 

III.2.5. Penentuan dan Pengukuran Mashlahah bagi Konsumen dan Model Empiris

 

Berikut ini adalah model matematis yang merupakan formulasi dari penentuan dan pengukuran mashlahah dalam perilaku konsumen Islam:

  • Maslahah = pahala x f (kegiatan)
  • Berkah = f (konsumsi)

Formulasi Maslahah:

M = F + B

M= mashlahah

F = manfaat

B = berkah

  • B = F . P
  • P = βi p

P = pahala total

Βi = frekuensi kegiatan

p= pahala per unit kegiatan

  • B = F βi p
  • M = F + F βi p
  • M = F (1+ βi p)
  • Dari formulasi tersebut, Jika pahala suatu kegiatan tidak ada, maka yang tertinggal hanya manfaat duniawi saja, seperti keuntungan uang/kepuasan psikis
  • Jika manfaat duniawi sudah tidak ada, maka keberkahan pun tidak ada
  • Jadi yang diharapkan dalam perilaku konsumen Islam adalah adanya integrasi manfaat fisik dan keberkahan.

Jadi konsumsi yang tidak dilandasi niat ibadah hanya akan menghasilkan mashlahah sebesar manfaat saja, artinya pencapaian mashlahah tidak maksimal. Identifikasi mashlahah dunia & akherat memerlukan ilmu, pengetahuan & pengalaman yg cukup.

Berikut adalah identifikasi dari bentuk-bentuk mashlahah:

  • Manfaat material, contoh: pada produk obral berupa Murahnya harga, discount, dan lain-lain.
  • Manfaat Fisik & Psikis, contoh: terpenuhinya rasa lapar, haus, dingin, sehat, nyaman dan lain-lain.
  • Manfaat Intelektual, contoh: informasi, pengetahuan, ketrampilan
  • Manfaat terhadap lingkungan (intra generation), contoh: adanya eksternalitas positif yang bisa dirasakan pembeli dan orang lain
  • Manfaat jangka panjang , contoh: bahan bakar bio gas

 

II.3. Hukum Utilitas dan Mashlahah Marginal

  1. a.      Hukum Utilitas Marginal

Dalam hukum utilitas marginal pada ilmu ekonomi konvensional berlaku hal sebagai berikut:

  • Jika seorang mengkonsumsi barang/jasa dengan frekuensi berulang-ulang, maka nilai tambahan kepuasan dari konsumsi berikutnya akan semakin menurun.
  • Utilitas marginal: tambahan kepuasan yang diperoleh konsumen akibat adanya peningkatan jumlah barang/jasa yang dikonsumsi.
  • Sebelum mencapai nilai negatif, nilai utilitas marginal mencapai kejenuhan terlebih dahulu yang ditunjukkan oleh nilai nol = utilitas total mencapai maksimum.
  • Pengecualian hukum tersebut di atas tidak berlaku pada orang yang mengalami kecanduan

 

  1. b.      Hukum Mashlahah Marginal

Apabila konsumen memiliki preferensi terhadap mashlahah, maka kehadiran mashlahah akan memberi warna berbeda pada kegiatan konsumsi tersebut. Orang tidak akan cepat bosan pada konsumsi yang didalamnya dilibatkan niat beribadah atau memiliki tujuan mashlahah, sehingga marginal mashlahah akan selalu konstan/tidak mengalami penurunan seperti pada kasus utilitas. Dari formulasi perhitungan mashlahah seperti rumus di atas, di bawah ini akan diperlihatkan bagaimana preferensi mahlahah dan kepedulian terhadap keberkahan dalam perilaku konsumsi akan memperlambat penurunan marginal mashlahah, yang artinya akan mencegah/memperlambat kebosanan.

 

Tabel 2. Penurunan Marginal Mashlahah konsumen peduli berkah lebih lambat dari yg tidak peduli

Frek Kegiatan Manfaat Fisik (2) Marginal Mashlahah Tdk peduli Marginal

Mashahah peduli110–218871032469784284108453021028632211367320864830-2430

 

 

Dalam penggunaan barang haram, maka tingkat mashlahah barang haram selalu negatif dan menurun dengan semakin seringnya dikonsumsi. Sehingga Islam melarang keras substitusi dan komplementaritas antara barang halal dan haram.

 

II.4. Pengaruh Tingkat Preferensi Mashlahah Terhadap Rentang Kegiatan Konsumsi

 

Berikut ini adalah formulasi tingkat preferensi mashlahah dan pengaruhnya terhadap kegiatan konsumsi:

  • M= F(1+βip)ᵟ
  • Koefisien perhatian/coefficient of awareness = ᵟ = 0 -1
  • ᵟ =0 = tidak memperhatikan mashlahah
  • ᵟ =1 = sepenuhnya memperhatikan mashlahah
  • Jika konsumen tidak memperhatikan berkah:

M = F à jadi mashlahah hanya sebatas manfaat fisik; krn ᵟ=0

 

Tabel 3. Ilustrasi Kasus: Perbandingan Mashlahah Marginal diantara Berbagai Preferensi terhadap Mashlahah

Frek Keg MM,

ᵞ=0MM,

ᵞ=0,5MM,

ᵞ=1MM,

ᵞ=1,51— 288171058603684978104794475108414043525810281571762591136190137033864172148-2143012091

Dari ilustrasi tabel tersebut di atas maka dapat dilihat kesimpulan sebagai berikut:

  • Preferensi terhadap mashlahah mampu memperpanjang horizon preferensi/ memperpanjang rentang kegiatan
  • Pd ᵞ = 0 besarnya MM semakin menurun dengan cepat
  • Penurunan MM semakin lamban saat preferensi terhadap mashlahah=ᵞ  semakin meningkat
  • Semakin konsumen peduli terhadap berkah (yakin dengan imbalan pahala), maka ia tidak mudah jenuh/bosan dengan apa yang dikonsumsinya, meski secara fisik tidak lagi melihat adanya manfaat.
  • Hukum penguatan kegiatan dari mashlahah: Keberadaan berkah akan memperpanjang rentang dari suatu kegiatan konsumsi. Konsumen yang merasakan adanya mashlahah dan menyukainya akan tetap rela melakukan suatu kegiatan meski manfaat fisik dari kegiatan tersebut bagi dirinya sudah tidak ada
  • Hukum Permintaan dalam Teori Ekonomi Islam:

Jika harga suatu barang/jasa meningkat, maka jumlah barang/jasa yang diminta akan menurun, selama kandungan mashlahah pada barang tersebut dan faktor lain tetap

 

II.5. Analisis Perbandingan Perilaku dan Prinsip Konsumsi Antara Konvensional dan Islam

 

Dalam kerangka pemikiran teori ekonomi konvensional, lahirnya ilmu perilaku ekonomi didasarkan kepada jumlah sumber daya (resource) yang terbatas dengan kebutuhan (needs) yang tidak terbatas. Fenomena keterbatasan tersebut melahirkan suatu kondisi yang disebut kelangkaan (scarcity). Munculnya kelangkaan mendorong berbagai permasalahan dalam memilih (problem of choices) yang harus diselesaikan guna mencapai suatu tujuan yang dinamakan kesejahteraan (welfare). Menurut sebuah buku digital: Principles of economics Welfare adalah The study of how the allocation of resources affects economic well-being diperjelas oleh Case/Fair dalam Principles of Economics yang mengatakan bahwa kriteria penilaian pencapaian hasil ekonomi berdasarkan kepada:

  • Efficiency (allocative efficiency): menghasilkan apa yang dibutuhkan masyarakat dengan biaya yang serendah-rendahnya
  • Equity: fairness (keadilan)
  • Growth: peningkatan total output dalam perekonomian
  • Stability: kondisi output yang tetap atau meningkat dengan tingkat inflasi rendah dan tidak ada sumber daya yang menganggur.

Dalam ekonomi konvensional tujuan konsumsi ditunjukkan oleh bagaimana konsumen berperilaku (consumer behavior). Dalam mempelajari consumer behavior ada tiga langkah yang dilakukan oleh ekonomi konvensional (Pyndick):

  1. Mempelajari consumer preferences: mendeskripsikan bagaimana seseorang lebih memilih suatu barang terhadap barang yang lain. Asumsi dasar dalam konsumsi:
  • Preferences are complete pilihan-pilihan menyeluruh.
  • Preferences are transitive pilihan-pilihan bersifat konsisten A>B, B>C, maka A>C.
  • Consumers always prefer more of any good to less: konsumen selalu memilih sesuatu yang banyak dibandingkan yang sedikit.
  1. Mengetahui keberadaan budget constraint (keterbatasan anggaran/sumber daya).
  2. Menggabungkan antara consumer preferences dan budget constraint untuk menentukan pilihan konsumen atau dengan kata lain kombinasi barang apa saja yang akan dibeli untuk memenuhi kepuasannya.

Manusia termasuk makhluk multidimensi, yaitu makhluk yang di dalam dirinya terdapat berbagai aspek yang cenderung menggerakkan manusia untuk berbuat, bertindak dan membutuhkan sesuatu. Sehingga manusia terdorong untuk melakukan sesuatu guna memenuhi kebutuhannya.

Telah dijelaskan dalam ekonomi konvensional, bahwa perilaku konsumsi mencakup kegiatan kegiatan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan baik jasmani maupun rohani guna mencukupi kelangsungan hidup. Perilaku konsumsi individu berbeda beda, perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan pendapat dan latar belakang. Dalam perspektif ekonomi konvensional dikatakan lebih banyak selalu lebih baik. Sementara dalam islam ada beberapa etika ketika seorang muslim berkonsumsi :

Menurut M.A. Manan :

  1. Prinsip Keadilan

Berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kedzaliman, berada dalam koridor aturan atau hukum agama, serta menjunjung tinggi kepantasan atau kebaikan. Islam memiliki berbagai ketentuan tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi.

  1. Prinsip Kebersihan

Bersih dalam arti sempit adalah bebas dari kotoran atau penyakit yang dapat merusak fisik dan mental manusia, sementara dalam arti luas adalah bebas dari segala sesuatu yang diberkahi Allah. Tentu saj benda yang dikonsumsi memiliki manfaat bukan kemubaziran atau bahkan merusak.

  1. Prinsip Kesederhanaan

Sikap berlebih-lebihan (israf) sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri. Islam menghendaki suatu kuantitas dan kualitas konsumsi yang wajar bagi kebutuhan manusia sehingga tercipta pola konsumsi yang efesien dan efektif secara individual maupun sosial.

  1. Prinsip Kemurahan hati.

Dengan mentaati ajaran Islam maka tidak ada bahaya atau dosa ketika mengkonsumsi benda-benda ekonomi yang halal yang disediakan Allah karena kemurahanNya. Selama konsumsi ini merupakan upaya pemenuhan kebutuhan yang membawa kemanfaatan bagi kehidupan dan peran manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah maka Allah elah memberikan anugrahNya bagi manusia.

  1. Prinsip Moralitas.

Pada akhirnya konsumsi seorang muslim secara keseluruhan harus dibingkai oleh moralitas yang dikandung dalam Islam sehingga tidak semata – mata memenuhi segala kebutuhan.

Menurut Yusuf Qardhawi

  1. Membelanjakan harta dalam kebaikan dan menjauhi sifat kikir.

Harta diberikan Allah SWT kepada manusia bukan untuk disimpan , ditimbun atau sekedar dihitung-hitung tetapi digunakan bagi kemaslahatan manusia sendiri serta sarana beribadah kepada Allah. Konsekuensinya, penimbunan harta dilarang keras oleh Islam dan memanfaatkannya adalah diwajibkan.

  1. Tidak melakukan kemubadziran.

Seorang muslim senantiasa membelanjakan hartanya untuk kebutuhan-kebutuhan yang bermanfaat dan tidak berlebihan (boros/israf). Sebagaimana seorang muslim tidak boleh memperoleh harta haram, ia juga tidak akan membelanjakannya untuk hal yang haram. Beberapa sikap yang harus diperhatikan adalah :

a. Menjauhi berutang.Setiap muslim diperintahkan untuk menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluarannya. Jadi   berutang sangat tidak dianjurkan, kecuali untuk keadaan yang         sangat terpaksa.

b. Menjaga asset yang mapan dan pokok. Tidak sepatutnya seorang muslim memperbanyak belanjanya dengan cara menjual asset-aset yang mapan dan pokok, misalnya tempat tinggal. Nabi mengingatkan, jika terpaksa menjual asset maka hasilnya hendaknya digunakan untuk membeli asset lain agar berkahnya tetap terjaga.

c. Tidak hidup mewah dan boros.

Kemewahan dan pemborosan yaitu menenggelamkan diri dalam kenikmatan dan bermegah-megahangat ditentang oleh ajaran Islam. Sikap ini selain akan merusak pribadi-pribadi manusia juga akan merusak tatanan masyarakat. Kemewahan dan pemborosan akan menenggelamkan manusia dalam kesibukan memenuhi nafsu birahi dan kepuasan perut sehingga seringkali melupakan norma dan etika agama karenanya menjauhkan diri dari Allah. Kemegahan akan merusak masyarakat karena biasanya terdapat golongan minoritas kaya yang menindas mayoritas miskin.

  1. Kesederhanaan.

Membelanjakan harta pada kuantitas dan kualitas secukupnya adalah sikap terpuji bahkan penghematan merupakan salah satu langkah yang sangat dianjurkan pada saat krisis ekonomi terjadi. Dalam situasi ini sikap sederhana yang dilakukan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat luas.

Perbedaan perilaku konsumen muslim dan konsumen  konvensional adalah konsumen muslim memiliki keunggulan bahwa harta yang mereka peroleh semata mata untuk memenuhi kebutuhan individual (materi) tetapi juga kebutuhan social (spiritual). Konsumen muslim ketika ia mendapat penghasilan, ia menyadari bahwa ia hidup untuk mencari ridha allah, maka ia menggunakan sebagian hartanya di jalan Allah, tidak ia habiskan untuk dirinya sendiri. Dalam islam, perilaku seorang konsumen muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah ( hablu mina allah) dan manusia (hablu mina annas).

Selain itu islam memandang harta bukan sebagai tujuan, tapi juga sebagai alat untuk memupuk pahala demi tercapainya falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). Harta merupakan pokok kehidupan Surat An-Nisa (4) : 5, yang merupakan karunia Allah surat an-Nisa(4):32. Islam memandang segala yang ada di bumi dan seisinya hanyalah milik Allah, sehingga apa uang dimiliki adalah amanah. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menyikapi harta benda untuk mendapatkannya dengan cara yang baik dan benar, proses yang benar,  pengelolaan dan pengembangan yang benar.

Sebaliknya, dalam perspektif konvensional, harta merupakan hak pribadi, asalkan tidak melanggar hukum atau undang undang, maka harta merupakan hak penuh pemiliknya. Sehingga yang membedakan adalah cara pandang dalam melihat harta, islam melihat melalui flow concept sementara konvensional melihat dengan cara stock concept.

Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyangkut nilai dasar yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi.

Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim :

1. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat), sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption.

2. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.

3. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. (QS.2.265)

 

 III. KESIMPULAN & SARAN

 

III.1. Kesimpulan

 

  1. Ada perbedaan nyata antara perilaku konsumen konvensional dan Islam.
  2. Perilaku konsumen Islam memiliki dasar rujukan syariah yang diambil dari Kitab suci Al Quran dan Al Hadis. Sedangkan perilaku konsumen konvensional berdasarkan rujukan logika manusia dan menganut paham kebebasan, hak pilihan mutlak pada keinginan  logika manusia. Tujuan konsumsi dalam ekonomi Islam adalah memaksimalkan mashlahah.
  3. Mashlahah merupakan integrasi dari  manfaat fisik dan keberkahan (keberkahan diperoleh dari produk/jasa halal, mengkonsumsi dengan niat/motif ibadah, konsumsi dibeli dari harta/rejeki yang halal dan lain sebagainya). Dalam rumusan matematis penghitungan mashlahah marginal, preferensi terhadap keberkahan terbukti dapat memperpanjang rentang kegiatan konsumsi, sehingga akan memperlambat/mencegah kebosanan. Sedangkan tujuan konsumsi dalam ekonomi konvensional adalah memaksimalkan kepuasan, tanpa memperhatikan halal haram atau menerapkan perilaku bebas nilai. Jika pun ada nilai yang dipakai tidak bersifat mengikat dan melekat, tujuan akhirnya tetap saja memaksimalkan kepuasan.
  4. Model matematis standar perilaku konsumen Islam dalam mencapai tujuan memaksimalkan  mashlahah adalah sebagai berikut:
  • B = F βi p
  • M = F + F βi p
  • M = F (1+ βi p)
  • B = F . P
  • P = βi p
  • P = pahala total
  • Βi = frekuensi kegiatan
  • p= pahala per unit kegiatan

 

Sedangkan model matematis perilaku konsumen dalam mencapai tujuan memaksimallkan keuntungan sebagai berikut:

  • Max U = U1 + U2 + U3 + … + Un
  • Dengan kendala : I = P1X1 + P2X2 + P3X3 + …….. + PnXn

dimana :

  • U         =    total kepuasan
  • Un,      =    kepuasan dari mengkonsumsi barang n
  • Pn        =    harga barang n
  • Xn,      =    banyaknya barang n yang dikonsumsi
  • I           =    total pendapatan

 

III.2. Saran

  1. Dibutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut untuk  mendeskripsikan, memformulasikan dan mempertajam kajian serta analisa tentang teori perilaku konsumen.
  2. Perilaku konsumen Islam memiliki kandungan nilai moral dan etika yang lengkap dan komprehensif. Namun untuk menjadi sebuah cabang ilmu tersendiri, ilmu ekonomi Islam harus membangun kerangka teoritik sesuai dengan tinjauan dari sisi axiologi, epistemologi dan ontologi. Oleh karena itu para ekonom/ilmuwan ekonomi Islam harus bersepakat membuat standarisasi ilmu ekonomi Islam, termasuk pula di dalamnya teori perilaku konsumen.
  3. Teori Ekonomi konvensional bisa dijadikan komplementer

dalam mengembangkan ilmu ekonomi Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

  1. Pemerintah Indonesia, harus memberi dukungan konkret terhadap perkembangan ilmu ekonomi Islam, baik dalam bentuk regulasi maupun dana, infrastruktur, sarana dan prasarana, sehingga diharapkan, Indonesia bisa menjadi pusat Ilmu Ekonomi Islam di dunia, bukan negara lain.

 

DAFTAR PUSTAKA


Kahf, M., 1995, Ekonomi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

 

Karim, A. Ir. , 2007. Ekonomi Mikro Islam, edisi ketiga, Rajawali Pers, Jakarta

 

Marton, Saad, Said, (2004), Ekonomi Islam Ditengah Krisis Ekonomi Global, Zikrul Hakim, Jakarta

 

Metwally, (1995), Teori dan model ekonomi islam. PT Bangkit Daya Insana, Jakarta

 

Nasution, M.E., Huda, N.,  dkk (2006). Pengenalan Ekslusif Ilmu ekonomi Islam, Kencana Prenada Group, Jakarta

 

P3EI, 2008, Ekonomi Islam, Rajawali Pers, Jakarta

 

Rahardja, P. dan Mandala, M., 2004, Teori Ekonomi Mikro: Suatu Pengantar, edisi ketiga, Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta.

 

Sukirno, S., 2009, Mikro Ekonomi: Teori Pengantar, edisi ketiga, Rajawali Pers, Jakarta

 

Yusuf, Q., 2002, Halal dan Haram dalam Islam, Bina Ilmu, Surabaya

 

http://ekonomikonvensionaldanekonomiislam.blogspot.com/2011/10/pengertian-konsumsi.html, diambil tanggal 11 Maret 2013.

 

 

 

Leave a Reply

*